Sepertipenjelasan di atas, orang yang sudah meninggal sangat bisa mendengarkan doa kita dari alam dunia. Imam Said bin Jubair ra, seorang ulama tabi'in, berkata: Baca Juga: 6 Cara Mengirim Doa Untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia. "Sesungguhnya orang-orang yang sudah mati itu dapat mengetahui kabar orang-orang yang masih hidup. Tetapiada syaratnya yaitu orang yang dibadalkan sudah meninggal atau yang masih hidup namun tidak memiliki kemampuan untuk melakukan ibadah umrah. Jasa Badal Umroh, Daftar Isi : Adapun ahli waris boleh mengumrohkan mayit meskipun tidak dengan izinnya. Dari sini disimpulkan, para ulama masih menganggap berdasarkan dalil dari badal haji InginMengumrohkan Orang Tua Dan Kerabat Yang Sudah Tua Atau Sudah Meninggal, Divisi Tour And Travel Kopmen BMI Buka Jasa Badal Umroh Sesuai Sunnah. Klikbmi, Tangerang - Sampai saat ini umroh untuk masyarakat Indonesia belum dibuka untuk umum. Kecuali untuk orang-orang Indonesia yang sudah menetap di sana. Callus +000 123 456 789. Home; About us. Our Pastors; Our Story; Pengakuan Iman GBI . Bagaimana hukum niat umroh untuk orang yang sudah meninggal? Melaksanakan ibadah haji ataupun umroh merupakan kewajiban bagi setiap insan yang beragama islam. Menurut pendapat Imam Hanafi, Maliki dan Syafiโ€™i, bagi orang yang sudah meninggal, kewajiban ibadah secara fisik sebenarnya telah gugur, akan tetapi jika ia memiliki harta dan pernah berwasiat, maka ahli warisnya wajib menunaikan kewajiban ibadah hartanya untuk digunakan mengirim seseorang untuk melakukan haji atas namanya. Hukum Niat Umroh untuk Orang yang Sudah Meninggal Melakukan ibadah haji atas nama orang yang sudah meninggal secara sukarela tanpa uang yang berasal dari harta orang yang sudah meninggal juga diperbolehkan asalkan memenuhi beberapa syarat. Sebuah hadits dari Abu Dawud menyebutkan riwayat dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu anhu, ia berkata ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุณูŽู…ูุนูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽุจู‘ูŽูŠู’ูƒูŽ ุนูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฎูŒ ู„ูู‰ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุฑููŠุจูŒ ู„ูู‰. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฌูŽุฌู’ุชูŽ ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ . โ€œBahwa Rasulullah SAW mendengar seseorang berkata, โ€œYa Allah aku penuhi panggilan-Mu atas nama Syubrumahโ€, Rasulullah SAW berkata โ€Siapakah Syubrumah ?โ€ Ia menjawab โ€œSaudaraku atau kerabatku,โ€ Rasulullah SAW berkata โ€œKamu sudah haji untuk dirimu sendiri ?โ€ Ia menjawab โ€œBelumโ€. Rasulullah SAW berkata โ€œHajilah kamu untuk dirimu sendiri dulu, kemudian kami haji atas nama Syubrumahโ€. [Hadist Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani kitab Irwa Al Ghalil, 4/171] Berdasarkan hadist tersebut, sebelum menghajikan orang lain. Seseorang haruslah sudah pernah melakukan haji untuk dirinya sendiri. Hadist lain mengatakan, ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ุฌูŽุงุกูŽุชู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู โ€“ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€“ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูู…ู‘ูู‰ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽุชู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุญูุฌู‘ูŽ ููŽู…ูŽุงุชูŽุชู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุญูุฌู‘ูŽ ุฃูŽููŽุฃูŽุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุญูุฌู‘ูู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุŒ ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูู…ู‘ููƒู ุฏูŽูŠู’ู†ูŒ ุฃูŽูƒูู†ู’ุชู ู‚ูŽุงุถููŠูŽุชูŽู‡ู ยป . ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู†ูŽุนูŽู…ู’ . ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุงู‚ู’ุถููˆุง ุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ู„ูŽู‡ู ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ู ุจูุงู„ู’ูˆูŽููŽุงุกู Bahwa Ibnu Abbas menceritakan โ€œSeorang wanita dari Juhaynah datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakanโ€™ Ibu saya bernadzar untuk melakukan ibadah haji, tetapi tidak melakukannya sebelum dia meninggal. Haruskah aku melakukan haji atas namanya? โ€œYa,โ€ jawabnya, โ€œLakukanlah haji atas namanya. Bukankah jika ibumu mempunyai hutang kamu akan membayarnya?โ€, wanita ini menjawab โ€œIyaโ€, Rasulullah SAW bersabda โ€œMaka bayarlah, karena sesungguhnya Allah lebih berhak untuk dibayarโ€ [Sahih al-Bukhari 1852] Berdasarkan hadist tersebut, nadzar haruslah dibayar dan melakukan ibadah haji atas nama orang yang sudah meninggal, si pelaksana haruslah berniat haji untuk orang yang diwakilkan dan diutamakan hal ini dilakukan oleh ahli waris, keluarga terdekat atau orang yang dipercaya untuk mewakilkan. Haji dan Umroh memiliki hukum yang berbeda. Perbedaan Umroh dan Haji ini juga mempengaruhiapakah hukum niat umroh bagi orang yang sudah meninggal. Menurut pendapat ulama Malikiyah dan Hanafiyah, hukum ibadah umroh ialah sunah muakkad sedangkan haji hukumnya adalah fardhu, sehingga tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk melakukan ibadah umroh untuk orang yang sudah meninggal. Akan tetapi jika seseorang sebelum meninggal telah bernadzar untuk melaksanakan ibadah umroh, maka hukumnya menjadi wajib bagi ahli waris atau yang mewakilkan karena telah bernadzar. ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุทููŠุนูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ููŽู„ู’ูŠูุทูุนู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุตููŠูŽู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุตูู‡ู . ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ โ€œDiriwayatkan dari Aisyah ra., dari Rasulullah SAW bersabda Barangsiapa yang bernadzar untuk mentaati Allah maka hendaknya ditaati ditunaikan, dan barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah maka janganlah ia tunaikan nazarnya untuk berbuat maksiat.โ€ [Hadist Riwayat al-Bukhari] Demikian penjelasan mengenai Bagaimana hukum niat umroh untuk orang yang sudah meninggal? melaksanakan ibadah umroh untuk orang yang sudah meninggal karena nadzar hukumnya menjadi fardhu. Apa Orang yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Perbuatan Orang yang Masih Hidup? Foto Ilustrasi kuburan JAKARTA - Orang-orang yang telah meninggal berada di alam barzakh hingga datangnya hari kiamat. Bagi mereka yang mukmin dan mendapatkan rahmat serta maghfirah Allah akan merasakan kenikmatan di alam barzakh. Sedang bagi para pelaku maksiat yang meninggal dalam keadaan penuh dosa, mereka sudah merasakan beratnya siksa di dalam barzakh. Namun demikian apakah orang-orang yang telah meninggal bisa melihat amal perbuatan yang dilakukan orang yang masih hidup? Dalam kitab at Tadzkirah, Imam Qurthubi menukil sebuah riwayat dari Ibnu Mubarak. ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ูˆุญุฏู†ุง ุตููˆุงู† ุจู† ุนู…ุฑูˆ ู‚ุงู„ ุญุฏุซู†ูŠ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ุฌุจูŠุฑ ุจู† ู†ููŠุฑ ุฃู† ุฃุจุง ุงู„ุฏุฑุฏุงุก ูƒุงู† ูŠู‚ูˆู„ ุฅู† ุฃุนู…ุงู„ูƒู… ุชุนุฑุถ ุนู„ู‰ ู…ูˆุชุงูƒู… ููŠุณุฑูˆู†ุŒ ูˆูŠุณุงุคูˆู†. ู‚ุงู„ ูŠู‚ูˆู„ ุฃุจูˆ ุงู„ุฏุฑุฏุงุก ุงู„ู„ู‡ู… ุฅู†ูŠ ุฃุนูˆุฐ ุจูƒ ุฃู† ุฃุนู…ู„ ุนู…ู„ุง ูŠุฎุฒู‰ ุจู‡ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุฑูˆุงุญุฉ. Artinya Ibnu Mubarok berkata diceritakan Shofwan bin 'Amr, dia berkata Diceritakan dari Abdurahman bin Jubair bin Nufair bahwa Abu Darda berkata Perbuatanmu akan diperlihatkan kepada orang-orang yang telah mati di antara kalian, maka mereka akan gembira sebab melihat perbuatan baik dan mereka akan tidak senang bila melihat perbuatan jelek. Abu Darda kemudian berdoa Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari amal yang dapat mendatangkan kehinaan bagi diri Abdullah bin Rawahah. Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa orang yang telah meninggal bisa melihat perbuatan-perbuatan orang-orang yang dikerjakan orang yang masih hidup. Ia senang bila orang yang masih hidup itu melakukan amal kebaikan, sebaliknya ia akan sangat membenci bila melihat orang yang masih hidup melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Seperti misalnya orang tua yang telah meninggal, maka juga dapat melihat perbuatan-perbuatan yang dilakukan anak-anaknya. Bila anak-anaknya itu saleh dan melakukan perbuatan yang baik maka orang tua yang telah meninggal pun akan bergembira. Wallahu'alam. MENGHAJIKAN ORANG YANG SUDAH MENINGGALPertanyaan. Al-Lajnatud Dรขimah Lil Buhรปtsil Ilmiyyah Wal Iftรข`ditanya Ada seseorang yang berusia 25 tahun, dia meninggal sebelum melaksanakan ibadah haji. Bolehkah kita menghajikannya ? Cukupkah dengan haji saja tanpa umrah, sementara dia punya harta ?Jawaban. Orang yang terkena kewajiban haji dan meninggal sebelum melaksanakannya, maka boleh diambilkan dari hartanya biaya untuk menghajikan dan mengumrahkannya. Boleh juga menghajikannya tanpa mengambil harta si mayit jika ada yang mau bersedekah dengannya. Kita sudah tahu, haji itu salah rukun Islam. Kewajiban melaksanakan ibadah haji tidak bisa gugur karena meninggalnya orang yang terkena kewajiban haji. Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Shahรฎh beliau, bahwa ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ุฌูู‡ูŽูŠู’ู†ูŽุฉูŽ ุฌูŽุงุกูŽุชู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูู…ู‘ููŠ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽุชู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุญูุฌู‘ูŽ ููŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุญูุฌู‘ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู…ูŽุงุชูŽุชู’ ุฃูŽููŽุฃูŽุญูุฌู‘ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุญูุฌู‘ููŠ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูู…ู‘ููƒู ุฏูŽูŠู’ู†ูŒ ุฃูŽูƒูู†ู’ุชู ู‚ูŽุงุถููŠูŽุฉู‹ ุงู‚ู’ุถููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ููŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ู ุจูุงู„ู’ูˆูŽููŽุงุกูAda seorang wanita dari Juhainah yang mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu bertanya โ€œIbuku pernah bernadzar melakukan ibadah haji, namun beliau tidak melaksanakannya sampai meninggal, apakah saya boleh menghajikannya ?โ€ Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab โ€œYa, hajikanlah ia ! Bagaimana pendapatmu, jika ibumu memiliki tanggungan hutang, apakah engkau akan membayarnya, Allah lebih berhak untuk dilunasi.โ€[1]Beliau Shallallahu alaihi wa sallam juga pernah ditanya oleh seorang wanita dari Khatsโ€™am ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ ููŽุฑููŠุถูŽุฉูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููู‰ ุงู„ู’ุญูŽุฌูู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูุจูŽุงุฏูู‡ู ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽุจูู‰ ุดูŽูŠู’ุฎู‹ุง ูƒูŽุจููŠุฑู‹ุง ุŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทููŠุนู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽูˆูู‰ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑูŽู‘ุงุญูู„ูŽุฉู ุŒ ููŽู‡ูŽู„ู’ ูŠูŽู‚ู’ุถูู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุญูุฌูŽู‘ ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’โ€œWahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban melaksanakan ibadah haji sampai ke bapakku saat beliau sudah tua renta dan tidak kuat di atas tunggangan kendaraan-red, bolehkah saya menghajikannya ?โ€ Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab โ€œHajikanlah bapakmu !โ€Sedangkan tentang kewajiban umrah, adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh lima Imam Ulama hadits Imam al-Bukhรขri, Muslim, Abu Dรขwud, at-Tirmidzi dan Imam Ahmad-red.ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุฑูŽุฒููŠู†ู ุงู„ู’ุนูู‚ูŽูŠู’ู„ููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุจููŠ ุดูŽูŠู’ุฎูŒ ูƒูŽุจููŠุฑูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุทููŠุนู ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ู’ุนูู…ู’ุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุธู‘ูŽุนู’ู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠูƒูŽ ูˆูŽุงุนู’ุชูŽู…ูุฑู’Dari Abu Razรฎn al-Uqaili. Dia mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu mengatakan โ€œSesungguhnya bapakku sudah tua, dia tidak mampu melaksanakan ibadah haji, umrah dan berkendaraan.โ€ Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda โ€œHajikanlah bapakmu dan umrahkanlah dia.โ€ูˆูŽุจูุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุชู‘ูŽูˆู’ูููŠู’ู‚ู ูˆูŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽุจููŠู‘ูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุขู„ูู‡ู ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽAl-Lajnatud Dรขimah Lil Buhรปtsil Ilmiyyah Wal Iftรข` Ketua Syaikh `Abdul `Azรฎz bin `Abdullรขh bin Bรขz; Wakil Syaikh `Abdurrazรขq Afรฎfy; Anggota Syaikh `Abdullรขh bin Quโ€™รปd Fatรขwa al-Lajnatid Dรขimah Lil Buhรปtsil Ilmiyyah Wal Iftรข`, 11/88[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo โ€“ Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] _______ Footnote [1]. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, 1/239-240; Imam Bukhari, 2/217-218, 7/233-234, 8/150; an Nasaโ€™I, 5/116, hadits no. 2632; ad-Daarimi, 2/24, 183; Home /A9. Fiqih Ibadah6 Haji.../Menghajikan Orang yang Sudah... Apa hukum melaksanakan umrah atas nama orang tua atau kerabat yang tidak mampu melakukan perjalanan jauh? Bolehkah bila yang hendak melaksanakan badal belum pernah menunaikannya? Marsonoโ€”Magetan ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูˆูŽุงู„ูŽุงู‡ู jawab Para ulama memerinci permasalahan mengumrahkan orang lain, baik ia sudah meninggal dunia maupun masih hidup. Pada prinsipnya, dibolehkan mengumrahkan orang lain; sebab umrah seperti haji. Ia boleh digantikan. Baik haji maupun umrah adalah ibadah badaniyah maliyahโ€”dilakukan dengan badan dan dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Perinciannya adalah sebagai berikut Para ulama madzhab Hanafi menyatakan, boleh menggantikan umrah orang lain jika orang tersebut memintanya. Sebab kebolehan menggantikan ini secara niyabah perwakilanโ€”sementara niyabah hanya terjadi dengan permintaan/perintah. Para ulama madzhab Maliki berpendapat, makruh hukumnya menggantikan umrah. Namun, jika hal itu dilakukan maka tetap sah. Para ulama madzhab Syafiโ€™i berpendapat, boleh menggantikan pelaksanaan umrah untuk orang lain, apabila orang itu meninggal dunia atau tidak mampu secara badan untuk bepergian. Barangsiapa yang meninggal dunia sementara ia mempunyai tanggungan umrah wajib, padahal ia mampu untuk mengerjakannya, namun belum sempat mengerjakannya ia keburu meninggal dunia, diwajibkan menggantikan umrahnya dengan biaya dari harta yang ditinggalkannya. Jika ada orang yang bukan kerabatnya mengerjakan atas namanya dan tanpa izin ahli warisnya, maka umrahnya sah. Sama seperti jika misalnya ia punya tanggungan hutang, lalu ada yang membayarkan atas namanya, maka itu sah meskipun tanpa izin orang yang punya utang. Masih menurut madzhab Syafiโ€™i, dibolehkan pula menggantikan pelaksanaan umrah sunnah jika seseorang tidak mampu secara badan atau yang sudah meninggal dunia. Para ulama madzhab Hambali berpendapat, tidak boleh mewakili pelaksanaan umrah atas nama orang yang masih hidup kecuali seizinnya. Sedangkan jika seseorang sudah meninggal dunia, maka boleh dilakukan tanpa seizinnya. Ibnu Qudamah berkata, โ€œHaji dan umrah atas nama orang yang hidup tanpa seizinnya tidak bolehโ€”sama saja, baik wajib maupun sunnah. Sebab ia adalah ibadah yang bisa diwakilkan sehingga tidak sah/tidak boleh jika tidak diizinkan oleh yang wajib melakukannya, sama seperti zakat. Adapun atas nama orang yang sudah meninggal dunia, maka tanpa seizinnya pun boleh. Sebab, Rasulullah saw memerintahkan pelaksanaan haji atas orang yang sudah meninggal dunia, dan dapat dipastikan tanpa izinnya. Apa yang boleh fardhunya boleh pula sunnahnya, seperti zakat/sedekah. Berdasarkan ini, semua yang dilakukan oleh orang yang mewakili meskipun tidak diperintahkan, misalya seseorang diperintahkan untuk menunaikan haji lau ia juga menunaikan umrah, atau diminta untuk mewakili pelaksanaan umrah, lalu ia menunaikan haji, maka pelaksanaan itu sah atas nama orang yang sudah meninggal dunia tersebut. Sebab tanpa izinnya hal itu tetap sah. Namun hal itu tidak sah atas nama orang yang masih hidup. Jika seseorang melakukannya tanpa seizin orang yang diwakilinya, pelaksanaannya itu tetap sah atas namanya sendiri. Sebab jika tidak sah atas nama orang yang diwakilinya, otomatis sah atas dirinya sendiri. Sama seperti halnya fidyah puasa. Dalil-dalil yang dijadikan sandaran oleh para ulama di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi dan berkata, โ€œIbuku meninggal dunia dan belum menunaikan haji. Apakah aku harus berhaji atas namanya?โ€™ Beliau bersabda, Ya, berhajilah atas namanya.โ€ Kemudian hadits yang juga diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, dari Abu Razin al-Uqayli, ia menemui Nabi saw dan berkata, โ€œWahai Rasulullah! Ayahku sudah tua, tidak dapat menunaikan haji, umrah, dan berkendaraan.โ€ โ€œKerjakanlah haji atas nama ayahmu dan berumrahlah!โ€ BACA JUGA Istri Bekerja Membantu Suami Memenuhi Kebutuhan Keluarga Untuk Diri Sendiri Dulu Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bolehnya seseorang berhaji untuk orang lain tetapi ia sendiri belum menunaikan haji. Imam Syafiโ€™i, Imam Ahmad bin Hambal, dan Ishaq bin Rahawaih berkata, โ€œOrang yang belum berhaji tidak boleh menghajikan orang lain.โ€ Ini juga pendapat al-Awzaโ€™i. Sedangkan menurut Imam Malik, ats-Tsawri, dan banyak ulama madzhab Hanafi berkata, boleh menghajikan orang lain meskipun ia sendiri belum berhaji. Dari kedua pendapat di atas, yang lebih kuat adalah yang menyataan tidak boleh. Dalil yang dijadikan pijakan mengenai tidak bolehnya menghajikanโ€”dan tentunya mengumrahkan orang lain tetapi ia sendiri belum melaksanakannya adalah hadits yang menjelaskan bahwa suatu hari Rasulullah saw mendengar seseorang berucap, โ€œLabbaik, atas nama Syubrumahโ€ Beliau bertanya, โ€œSiapakah Syubrumah itu?โ€ Orang itu menjawab, โ€œSaudaraku atau kerabatku.โ€ Beliau bertanya lagi, โ€œApakah kamu sudah berhaji atas nama dirimu?โ€ Orang itu menjawab, โ€œBelum.โ€ โ€œJika demikian, berhajilah untuk dirimu dulu, lalu berhajilah untuk Syubrumah,โ€ jelas beliau. Hadits shahih riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidziy, dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas Wallahu aโ€™lam.

mengumrohkan orang yang sudah meninggal